Info Lengkap Terupdate, Trending Topik Bekasi, Berita Bekasi, Informasi Bekasi

APVI Helat Rontgen dan Talkshow

KONFERENSI PERS: dr. Arifandi Sanjaya (kiri Pertama), Kabid Humas APVI, Rhomedal Aquino, Ketua DPD APVI Kota Bekasi, Eko Wibisono, Ketua AVI Kota Bekasi, Johan Sumantri, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Bekasi, Safianty Anwar dan Ketua Sahabat APVI, Hasiholan Manurung saat melakukan konferensi pers terkait pro dan kontra vape. IST/RADAR BEKASI3

Radarbekasi.id – Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Kota Bekasi menghelat acara rontgen paru gratis bersama yang dibuka untuk umum dan vaper Bekasi di Gedung Graha Hartika, Jalan Rawa Tembaga, Kecamatan Bekasi Selatan, Sabtu (30/11).

Tidak hanya itu saja, APVI juga menghelat talkshow bertajuk ”Vape sebagai Produk Tembakau Alternatif” dengan menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan.
Di antaranya, dr. Arifandi Sanjaya, Kabid Humas APVI, Rhomedal Aquino, Ketua DPD APVI Kota Bekasi, R. Eko Wibisono, Ketua APVI, Johan Sumantri, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Bekasi, Safianty Anwar serta Ketua Sahabat APVI, Hasiholan Manurung.

Acara tersebut dihelat karena vape sempat mendapatkan stigma buruk di mata masyarakat lantaran dinilai lebih berbahaya dibanding rokok konvensional.
Ketua DPD APVI Kota Bekasi, R. Eko Wibisono menuturkan, kegiatan rontgen dan talkshow ini dilakukan untuk meminimalisir isu bahaya vape di kalangan masyarakat luas.

”Pemakaian vape harusnya menjadi salah satu alternatif untuk menghentikan penggunaan rokok konvensional. Maka dari itu lewat talkshow ini, saya ingin menjelaskan bahwa vape itu tidak berbahaya kalau penggunaannya tidak disalahgunakan,” katanya.

Padahal, kata dia, industri tembakau alternatif itu memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar. Bahkan dalam laporan bea cukai sendiri, pihaknya sudah menyumbangkan sebesar Rp700 miliar sejak awal cukai berlakukan.
”Teman APVI ingin bikin gerakan yang mengedukasi terkait vape itu seperti apa. Sehingga akan ada regulasi yang menaungi produsen maupun konsumen vape,” ucap dia.

Sejak diresmikan aturan fiskal, yakni sudah dikenakan tarif cukai sebesar 57 persen, peluang ekspor vape diyakini sangat besar. Sehingga otomatis bisa menambah devisa negara. Karena, cita rasa para produsen lokal mampu menembus penikmat vape di mancanegara.

Sementara, Ketua Sahabat APVI Kota Bekasi, Hasiholan Manurung, di sisi lain mengatakan pengguna dan pelaku industri vape diwajibkan berusia minimal 18 tahun.

”Vape jangan sekali-kali dikaitkan dengan narkoba. Jangan disalahkan vape-nya tapi oknumnya yang menggunakan vape sebagai alat narkoba. Dan itu sudah menjadi alat narkoba bukan alat vape lagi. Seperti botol minuman yang dipakai buat alat hisap narkoba bukan sebagai botol minuman lagi melainkan alat narkoba. Kami juga mempunyai organisasi RELEVAN (relawan vape anti narkotika) yang fokusnya lebih ke pencegahan bahaya narkotika,” tambahnya.

Kemudian, Ketua AVI Kota Bekasi, Johan mengatakan, penggunaan vape saat ini bukan hanya sebagai peralihan rokok yang lebih modern. Tapi lebih mengarah kepada manfaat vape sebagai solusi bagi seseorang yang hendak berhenti merokok. ”Pada dasarnya, vape juga mengandung nikotin. Tapi, vape sendiri murni hanya mengandung nikotin dan tidak ada zat-zat berbahaya lainnya seperti yang terdapat dalam rokok konvensional yang mengandung tar dan zat adiktif lainnya,” paparnya.
Ia pun mengungkapkan, saat ini, pengguna vape sendiri didominasi kaum muda atau milenial. Tapi, sekitar 27 persennya telah digunakan juga oleh orang tua atau usia 40 tahun keatas.

Sementara, dr. Arifandi Sanjaya menjelaskan, bahwa semua pemakaian yang berlebihan pasti berbahaya. Tetapi dia juga menjelaskan bahwa efek negatif rokok elektronik lebih kecil, dibandingkan rokok konvensional. ”Nikotin tidak menyebabkan kanker. Tubuh membutuhkan nikotin, bukan tar,” ujar dia dalam kesempatan yang sama.

Menurutnya, vape cukup efektif menghentikan kebiasaan merokok. Hal itu pun dirasakannya sendiri dan beberapa rekannya. ”Tapi saya tidak menyarankan, bagi yang bukan perokok untuk menggunakan vape. Jadi vape sendiri tidak ada Tar, dan Karbonmonoksida, dipastikan lebih sehat dibanding rokok konvensional. Vaping tidak bebas dari risiko. Tetapi jauh lebih kecil risikonya dibandingkan merokok,” tegas dia.

Terkait kontroversi soal isu kesehatan, menurut dia, rokok elektrik dapat memberikan dampak kesehatan yang lebih baik bagi perokok tembakau. Dari ratusan hasil rontgen, ada perubahan flek pada paru-paru vaporizer yang dulunya menggunakan rokok tembakau. ”Kalau mau membandingkan hasil rontgen vaporizer yang dulunya merokok tembakau, pastinya flek di dadanya jauh lebih berkurang,” katanya.

Setelah konferensi pers dan talkshow tersebut, APVI pun sekaligus menggalakkan hastag #sayapilihvape sebagai bentuk kampanye peralihan rokok konvensional ke vape. Tujuannya, agar para pecandu rokok konvensional bisa mendapatkan solusi lebih baik untuk berhenti merokok. (pay/pms)

The post APVI Helat Rontgen dan Talkshow appeared first on RADAR BEKASI.