Info Lengkap Terupdate, Trending Topik Bekasi, Berita Bekasi, Informasi Bekasi

Idul Adha Berikan Arti Berkhidmat ke Masyarakat

Radarbekasi.id – Momen Idul Adha menjadi momen yang saling membahagiakan. Bukan hanya sebagai ritual ibadah bagi umat muslim saja, namun momen Idul Adha memberikan cerminan berkhidmat untuk bisa berkumpulnya sesama warga masyarakat yang plural.

Berkhidmat diambil dari asal kata khidmat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) khidmat diartikan sebagai hormat, takzim. Sedangkan dalam istilahnya khidmat bisa diartikan sebagai menggambarkan suasana hati yang damai.

Turunan dari kata khidmat ini yaitu berkhidmat dan kekhidmatan. Berkhidmat berarti menunjukkan perbuatan khidmat, mengabdi atau bersopan santun. Sedangkan kekhidmatan berarti suasana khidmat atau takzim.

Dalam suasana peribadahan kepada Tuhan, khidmat ini sendiri bisa memberikan arti bentuk atau cara seseorang dalam berhubungan dengan Tuhannya. Sebagai contoh dengan peribadah dengan semakin khusyuk maka diharapkan akan mempertebal iman seseorang. Berkhidmat kepada Tuhannya memang sudah selayaknya dilakukan oleh setiap insan manusia. Karena tujuan utama manusia berada di dunia yaitu untuk mengabdi (beribadah) kepada Tuhannya.

Senada dengan hal tersebut, momen Idul Adha memang suatu momen yang pas hubungan manusia kepada Tuhannya. Namun demikian, momen Idul Adha ini juga harus berimbas kepada berkhidmat kepada masyarakat.

Dalam hubungan kepada masyarakat, momen Idul Adha ini memberikan sebuah makna yang luas artinya. Masyarakat yang plural dengan adanya perbedaan agama, suku, perilaku, budaya maupun adat istiadat ini sudah bisa dijembatani dengan adanya momen Idul Adha.

Dalam lingkungan sekolah, momen Idul Adha juga bisa memberikan sisi berkhidmat. Peserta didik diberikan dorongan untuk bisa melaksanakan aksi khidmat ke masyarakat. Bahkan, selain berkhidmat ke masyarakat, sisi pendidikan ke peserta didik juga sudah mulai dilatih sejak dini.

Beberapa tahapan yang bisa dicoba untuk melatih berkhidmat bagi peserta didik yaitu yang pertama berniat untuk bisa melaksanakan penyembelihan hewan qurban. Hal ini bisa dilakukan dengan secara mandiri oleh peserta didik dengan meminta bantuan dana ke orang tua atau wali bagi yang berkecukupan.

Di sisi lain bagi peserta didik yang orang tua atau walinya belum bisa membeli hewan qurban, maka peserta didik bisa saling bahu membahu dengan melaksanakan tabungan hewan qurban dengan periode tertentu seperti selama setahun dalam kelasnya. Atau bisa juga dilakukan dengan melaksanakan infaq bersama ke satu sekolah baik pendidik maupun peserta didik untuk melaksanakan pembelian hewan qurban dan menyembelihnya.

Kegiatan dalam pembelian hewan qurban memang selayaknya dilaksanakan secara perorangan, namun dengan melaksanakan infaq bersama bisa melatih peserta didik untuk bisa mandiri di kemudian hari untuk bisa melaksanakan pembelian hewan qurbannya secara mandiri.

Kedua, aksi berkhidmat bagi peserta didik dengan bersentuhan langsung ke masyarakat yaitu dengan cara menyusun kepanitian pelaksanaan penyembelihan hewan qurban. Kondisi ini bisa dilakukan dengan melaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan shalat Idul Adha bagi yang muslim. Kesatuan ibadah yang bermakna dalam melatih ibadah kepada peserta didik dengan bimbingan dari pendidik.

Dalam penentuan kepanitian ini juga peserta didik bisa melaksanakan sebuah kerja yang bernilai ibadah tanpa harus terbebani. Peserta didik sudah dilatih dengan pembagian tugas dan peran serta untuk membangkitkan jiwa kepemimpinan dan berorganisasi di kemudian hari. Dalam kepanitian juga bisa dilaksanakan secara bersama-sama dengan warga masyarakat terdekat dengan sekolah. Sehingga kesatuan dan rasa persaudaraan pun tercipta antara warga sekolah dengan masyarakat.

Ketiga, Pelaksanaan penyembelihan hewan qurban dengan peserta didik sendiri yang melakukan penyembelihannya. Pelatihan ke peserta didik dalam beribadah memang sudah seharusnya dibiasakan sejak dari sekolah. Begitupun dengan pelaksanaan penyembelihan hewan qurban. Banyak diantara warga masyarakat yang sudah dewasa pada kenyataannya belum bisa menyembelih hewan qurban. Berkaca dari fenomena tersebut, maka sejak dini lah peserta didik sudah diajarkan untuk bisa menyembelih hewan qurban sehingga saat dewasa tidak canggung dan malu lagi untuk menyembelih hewan qurban.

Setelah penyembelihan hewan qurban, tentu saja akan ada pemotongan daging. Saat pemisahan daging pun mesti dilakukan secara proporsional dengan ketersediaan daging dan lapisan masyarakat yang akan menerima manfaat dari daging qurban. Hal ini perlu penataan yang jelas, dan bimbingan guru akan memberikan dampak dan nilai pendidikan berharga untuk peserta didik.

Keempat, hewan qurban yang telah disembelih, tentu saja akan dibagikan ke warga masyarakat sekitar. Semua lapisan elemen masyarakat bisa merasakan dan mencicipi daging dari hewan qurban. Jika hewan qurban yang tersedia di sekolah banyak dan mencukupi maka bisa dibagikan kepada masyarakat baik yang kekurangan serta seluruh lapisan masyarakat. Namun, jika hewan qurban yang disembelih hanya sedikit maka cukup dilaksanakan dengan memasak dan makan bersama antara civitas akademika termasuk peserta didik dengan lapisan masyarakat.

Dalam hal pembagian daging hewan qurban ini pula, peserta didik yang telah didampingi oleh pendidik bisa dimulai dengan mendata masyarakat yang membutuhkan hingga kepada pembagian secara langsung kepada lapisan masyarakat. Pendataan ini tentu saja akan berhubungan dengan masyarakat dan nilai rasa berkhidmat tercipta.

Yang terakhir tentu saja pembagian hewan qurban ke masyarakat. Hal ini menjadi momen penuh kebahagiaan antara nilai-nilai berkhidmat dari civitas akademika sekolah kepada warga masyarakat sekitar tanpa terkecuali. Memang, momen Idul Adha memiliki nilai berkhidmat yang sangat bermakna dan menakjubkan. (*)

Anggota KGPBR

The post Idul Adha Berikan Arti Berkhidmat ke Masyarakat appeared first on RADAR BEKASI.