Info Lengkap Terupdate, Trending Topik Bekasi, Berita Bekasi, Informasi Bekasi

Lawan Hoaks dengan Gerakan Literasi Sekolah

Radarbekasi.id – Era disrupsi, yang dicirikan dengan terjadinya revolusi di bidang komunikasi bukannya tidak menimbulkan masalah. Banjir informasi yang muncul bersamaan dengan terbukanya akses internet secara meluas yang kemudian disusul tren media sosial menimbulkan permasalahan serius. Kenyataan bahwa media sosial memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menyampaikan dan mengakses informasi, menjadi lahan yang subur bagi bentuk kejahatan sosial yang terdengar baru: hoaks! (Bahasa Inggris: Hoax)

Hoaks menurut KBBI adalah berita bohong. Hoaks dapat berarti berita yang sesungguhnya bohong, tetapi dibuat seakan-akan berita tersebut benar adanya. Belum lama ini para Peneliti dari Oxford University menerbitkan sebuah laporan yang menyatakan bahwa di 70 negara, termasuk di Indonesia, para Politisi menyewa Buzzer untuk memanipulasi opini publik. Di dalam laporan berjudul ”The Global Disinformation Order, 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation” tersebut, dijelaskan bahwa informasi yang dikirimkan oleh para Buzzer tersebut bertujuan untuk menyebarkan propaganda, hingga memecah-belah publik. Hal tersebut tentu dapat membahayakan keutuhan berbangsa dan bernegara.

Fenomena hoaks bukan tidak bisa dilawan. Pemerintah dengan segala upaya telah menerbitkan regulasi terkait aktivitas menyebar dan mengakses informasi elektronik, melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016, atau dikenal dengan UU-ITE. Sebagai suatu Undang-Undang, langkah tersebut berdimensi Top-Down, dan cenderung menuai banyak kritik karena dianggap membatasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. Ada alternatif lain yang lebih bersifat preventif dan cenderung merakyat, yakni melalui langkah edukasi literasi di sekolah.

Lemahnya daya literasi dinilai menjadi penyebab utama dari mudahnya masyarakat kita terpapar hoaks. Sehingga edukasi literasi dinilai tepat karena langsung menyentuh pangkal persoalan. Dalam hal ini, sekolah melalui gerakan literasinya memiliki potensi yang sangat besar dalam menanamkan sikap kritis pada peserta didik terhadap teks informasi yang diterimanya. Kegiatan 15 menit membaca sebelum kegiatan pembelajaran di dalam kelas harus dimaksimalkan fungsi dan tujuannya, melalui metode yang tepat dan variatif.

Billy Antoro di dalam bukunya yang berjudul Gerakan Literasi Sekolah dari Pucuk hingga Akar: Sebuah Refleksi, menyatakan bahwa Gerakan Literasi Sekolah, termasuklah di dalamnya kegiatan 15 menit membaca buku teks nonpelajaran sebelum kegiatan pembelajaran bertujuan untuk penumbuhan budi pekerti pada diri peserta didik (Billy Antoro, 2018). Kegiatan membaca 15 menit buku teks nonpelajaran tersebut harus dikemas dengan menarik dan kreatif, yang dapat mengembangkan kompetensi peserta didik, baik dalam mengembangkan imajinasinya, maupun dalam mengasah nalar kritis peserta didik terhadap suatu teks yang dibacanya.

Kegiatan literasi di sekolah tidak boleh dipraktikkan secara sempit, seperti anggapan bahwa setelah peserta didik membaca, berarti kegiatan literasi telah terlaksana tanpa penekanan apa pun, atau sekadar pengguguran kewajiban. Melalui Gerakan Literasi Sekolah, sekolah harus menyediakan ruang kreativitas yang luas bagi peserta didik dalam menyikapi teks yang telah dibacanya. Sekolah bisa mendorong peserta didiknya untuk menulis resume dari buku yang telah dibacanya; kelebihan dan kekurangan buku tersebut; atau bahkan memberikan kritik terhadapnya, baik dari segi konten maupun gaya penulisan. Khusus untuk peserta didik di jenjang sekolah dasar, kegiatan membaca kritis seperti di atas dapat dipraktikkan dengan cara membuat catatan dalam format 5W1H, atau menuliskan gagasan pokok yang terdapat di dalam buku yang dibacanya.

Kegiatan literasi sekolah pun harus berdampak pada berkembangnya minat menulis pada diri peserta didik. Sehingga, membaca sumber-sumber yang valid menjadi kebutuhan peserta didik. Lambat laun kegiatan membaca kritis akan menjadi suatu budaya yang mengakar pada diri peserta didik. Di samping itu, dalam beberapa periode yang terencana, perlu juga diselenggarakan momen khusus tentang literasi digital kepada peserta didik disertai dengan penyuluhan tentang bahaya hoaks dan dampak buruknya.

Kita semua membenci hoaks. Bahkan Allah swt. di dalam Al-Qur’an memerintahkan kepada orang-orang beriman agar memeriksa kebenaran suatu informasi sebelum mengambil tindakan atas informasi tersebut, yang akhirnya menimbulkan kerugian dan penyesalan (Q.S. Al-Hujurat [49]: 6). Di ayat yang sama, tindakan keliru tersebut yang dilakukan karena tidak memeriksa terlebih dahulu informasi hoaks digolongkan sebagai tindak kebodohan. Oleh karenanya, kebodohan hanya dapat dilawan dengan jalan edukasi, salah satunya dengan kegiatan literasi sekolah. Salam literasi! (*)

Guru MI Al Muhajirien Jakapermai

The post Lawan Hoaks dengan Gerakan Literasi Sekolah appeared first on RADAR BEKASI.