Info Lengkap Terupdate, Trending Topik Bekasi, Berita Bekasi, Informasi Bekasi

Pelaku Industri Pariwisata Minta Perhatian Pemerintah

JALAN SENDIRI: Seorang warga jalan sendirian di kawasan ekowisata mangrove yang berada di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Rabu (25/3). Pemerintah Kabupaten Bekasi menutup sementara tempat-tempat wisata untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pelaku usaha pariwisata di Kabupaten Bekasi turut merasakan dampak dari merebaknya wabah virus corona (Covid-19). Dimana sejak terhitung 18 Maret 2020, sejak adanya imbauan agar tempat-tempat wisata tidak beroperasi sementara (tutu) untuk memutus mata rantai penyebaran Covid 19.

Menurut Koordinator Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Bekasi, Sarman Faisal, pihaknya harus mengikuti imbauan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Yakni, tidak mengumpulkan orang banyak atau berkumpul dikerumunan massa demi terhindar-nya penularan Covid-19 ini.

”Memang dari segi pendapatan, sudah pasti kami sebagai pengelola tempat wisata mengalamai kerugian dan dampaknya cukup besar. Padahal, kami sedang berjuang untuk pertumbuhan ekonomi melalui bidang pariwisata. Namun disisi lain, para pekerja juga harus digaji untuk biaya hidup mereka sehari-hari dan sebagai tanggung jawab sosial,” ucap Sarman.

Pria yang merupakan pengelola Taman Matahari ini, juga merasa dirugikan karena tidak ada peputaran uang ditempat wisata yang dikelola-nya itu sejak mewabahnya Covid-19.

”Kalau bunga matahari ini kan ada batas mekar-nya. Paling tidak sekitar sebulan bisa bertahan, dan disitulah nilai keindahan yang membuat para wisatawan berkunjung. Jadi, selain tutup, kami juga tidak menanam bunga matahari untuk sementara sampai waktu yang belum ditentukan,” terangnya.

Sarman yang memiliki dua tempat wisata bunga matahari ini, harus merumahkan sejumlah pekerja sesuai himbauan Pemkab Bekasi. Setidaknya ia memiliki 15 pekerja kebun dan ticketing di dua tempat wisata yang berlokasi di wilayah Kecamatan Sukakarya dan Cikarang Timur ini.

”Sekarang saya tidak lagi berfikir untung-rugi, melainkan bagaimana dapat turut serta memutus rantai penyebaran Covid-19 di Kabupaten Bekasi. Namun setelah ini, karena adanya penutupan mata pencarian berbagai sektro, khsusunya pelaku usaha kecil, kami berharap ada perhatian dari pemerintah,” imbuh Sarman seraya mengatakan, setiap hari ia biasa mendapatkan omset Rp 1-1,5 juta – Rp  3-5 juta setiap akhir pekan ataupun hari libur.

Sebab kata dia, tempat wisata lain-nya, seperti jembatan cinta, kawasan ekowisata mangrove Kecamatan Tarujaya, serta wisata hutan mangrove Kecamatan Muara Gembong, dan Taman Pelangi Kecamatan Pebayuran yang juga wisata yang dikelola secara swadaya, juga ikut ditutup.

”Karena adanya penutupan tempat wisata, juga memutus mata rantai perekonomian masyarakat sekitar. Contoh-nya, pedagang kecil yang jualan makanan dan minuman, serta souvenir juga tidak lagi ada yang membeli hasil kerajinan mereka sejak mewabah-nya Covid-19. Oleh sebab itu, kami meminta setelah Covid-19 selesai, ada perhatian dari pemerintah daerah untuk membantu para pelaku usaha pariwisata maupun UMKM. Sebab, sektor pariwisata ini juga membawa nama daerah Kabupaten Bekasi,” beber Sarman.

Sementara pengelola wisata Kawung Tilu, Cikarang Timur, Gunawan mengakui, setelah adanya himbauan dari pemerintah agar masyarakat tidak beraktivitas di luar rumah, juga berharap pemerintah dapat memperhatikan warga yang terdampak dari kebijakan itu.

”Biasanya, setiap hari tempat wisata yang saya kelola bisa mendapatkan omset Rp 2 juta. Bahkan kalai hari Sabtu-Minggu atau hari libur nasional, bisa Rp 15 juta-an,” klaim Gunawan.

Lanjutnya, area wsiata yang ia kelola itu menunjukkan keindahan pepohonan dan alam seluas lima hektar ini, setiap hari-nya bisa dikunjung 100-200 orang. Kalau hari libur bisa mencapai 1.000 pengunjung.

”Maka dari itu, pelaku usaha sangat merasakan dampak-nya. Oleh karenanya, dalam hal ini perlu kehadiran pemerintah untuk memperhatikan rakyat-nya,” saran Gunawan.

Sebelumnya, pemerintah berencana memberikan stimulus tambahan untuk sektor pariwisata yang terdampak Covid-19 setelah memberikan diskon tiket pesawat dan membebaskan pajak hotel dan restoran.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio mengatakan, pemerintah ingin membantu pelaku usaha pariwisata agar tak mengambil kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tengah merebaknya Covid-19.

“Kami berupaya mengusulkan pelbagai stimulus ekonomi untuk meringankan beban dan biaya industry pariwisata dan ekonomi kreatif, sehingga mengurangi potensi PHK karyawan di sektor itu,” katanya melalui konferensi video, Senin (23/3) lalu.

Dalam paket stimulus ekonomi jilid I, pemerintah mengalokasikan belanja sebesar Rp 10,3 triliun, di mana di antaranya diperuntukkan program diskon tiket pesawat dan pembebasan hotel dan restoran di daerah wisata terdampak.

Namun Wishnutama belum membocorkan jenis stimulus yang disiapkan untuk para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif. Menurutnya usulan stimulus itu masih dikoordinasikan dengan kementerian atau lembaga terkait.

Namun yang pasti, dampak Covid-19 tidak hanya menyasar sektor pariwisata seperti hotel, restoran, biro perjalanan, maupun event organizer, tetapi juga dirasakan pelaku UKM dan warga lokal di sekitar destinasi wisata.

“Presiden dan pemerintah menaruh perhatian sangat besar pada sektor pariwisata sebagai salah satu leading sektor perekonomian nasional,” tegas Wishnutama.

Dia pun mengajak para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif saling membantu dalam situasi yang tidak mudah akibat Covid-19 seperti saat ini, diantaranya untuk tetap berada di rumah demi menekan penyebaran Covid-19.

Bahkan Wishnutama telah menerbitkan surat edaran yang meminta semua kegiatan di dalam dan luar ruangan di semua sektor yang terkait pariwisata dan ekonomi kreatif ditunda sementara waktu. (and)